What is 554 Generation?

Bagi yang belum tahu 554 Generation itu apa, ayo kesini.

Bercerita Dengan Kata

Kumpulan tulisan dari yang iseng sampai yang serius.

Free Download

Kumpulan charity serta fun project seputar keislaman. Dapatkan kontennya secara cuma-cuma disini!.

Commercial Project

ILUSI Graphic Studio menjawab problem desain, branding dan cetak anda, Insya Allah. Contact us here.

Dakwah - Non Commercial Project

Butuh visual untuk project dakwahmu? Barangkali kami bisa bantu.

Selasa, 09 Oktober 2012

Meranggas



Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan salah seorang mentee (binaan mentoring) saya di salah satu SMU. Cukup excited, karena saya akhir-akhir ini jarang bertemu dengan dia, karena kesibukan dan aktivitas masing-masing. Ditambah lagi, saya bertemu dengannya di toko ATK dekat rumah saya. Lantas apa hubungannya? Well, rumahnya yang cukup jauh di selatan, ditambah waktu bertemu kami di malam hari selepas isya, cukup untuk membuat saya bertanya-tanya, “ini anak ngapain beli ATK nyampe sini?”

Ternyata dia baru saja pulang karena urusan organisasi (heran juga, selarut ini?). Bertegur sapa sejenak, ngobrol beberapa hal, tertawa, sampai tanpa sengaja mata saya melihat HP miliknya. Bukan, bukan karena HP saya terlalu jadul ketika disandingkan dengan HP miliknya. Melainkan wallpaper yang dipasang oleh mentee saya ini. Dia memasang foto seorang akhwat di sana.

Selepas dia pergi, saya garuk-garuk kepala (karena bingung, bukan karena ketombean atau kutuan ya :D), merenung sejenak. Memang sih, dari beberapa statusnya dia yang sempat muncul di Home FB saya, terlihat getir galau disana. Entah karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, atau karena sekadar mendamba dalam perasaan SSS (sama-sama suka) tapi menyadari bahwa profilnya berbingkai ‘embel-embel’ mantan pengurus ROHIS (karena sudah kelas XII).

Yah, bagaimanapun juga itu ‘kan hanya sebatas perkiraan saya..

Lalu, saya dikabari lagi oleh mentee yang lain, “Bang, did you know, kayaknya temen-temen lagi pada turun nih... standarnya pada turun. Si anu juga udah berani salaman sama akhwat. Padahal kan diantara kita, yang paling ‘kenceng’ kan dia.”

Sepertinya saya harus menginsyafi diri, bahwa ini semua salah saya.

Bukan salah mentee saya, ketika dia memasang foto akhwat pujaan hati di HPnya. Bukan salahnya juga, ketika dia menjadi lebih ‘berani’ dengan akhwat. Meski tidak selalu benar adanya, ketika ada mentee yang bermasalah, bisa jadi kemungkinan besar itu karena mentornya juga bermasalah..

Kami jarang bertemu. Saya lebih memberatkan ke aktivitas kuliah dan pekerjaan, ketimbang bersua dengan mereka. Padahal jika dihitung-hitung, hanya dua-tiga jam setiap pekan, atau tidak sampai 6% dari 168 jam dalam sepekan.

Meski komunikasi ada, hal itu terbilang jarang, dan tidak terlalu intens. Padahal, mentoring ini disemai dengan hati, disiram oleh air jernih taujih dan ilmu, dipagari dengan nasehat, dipupuk dengan ukhuwah.

Sehingga, ibarat menanam tanaman, saya membiarkannya meranggas, menunggu mati. Astaghfirullah...

Sahabat, maafkan mentormu ini ya. Saya banyak melalaikan hak-hak kalian sebagai mentee, yang (secara manusiawi) butuh diingatkan dikala melenceng, atau dikuatkan dikala melemah..

Semoga Allah memaafkan apa yang kalian perbuat, karena –bisa jadi- tidak ada yang peringatan yang bisa menyentuh hati kalian saat itu.

Dan semoga Allah mengampuni kealpaan saya, memberikan kemudahan dan kekuatan untuk merasakan kembali sejuknya kepakan sayap malaikat di setiap pertemuan kita...

                Aku mencintai kalian karena Allah..


9 Oktober 2012
–petuah hati untuk diri sendiri, dan para mentor yang abai pada binaannya (semoga tidak banyak) dimanapun berada--

Senin, 03 September 2012

Bahagia Itu...


Bahagia itu,

Adalah ketika terbangun tepat saat adzan subuh, bersegera ke masjid dengan riang, meski agak dingin. Lalu, sesampainya di rumah mendapatkan pelukan hangat ummi, “Selamat ulang tahun ya bang, kamu sudah dewasa...”

Meski kemudian berikutnya adalah kerja keras menjadi tukang ledeng membersihkan sistem pipa air rumah, bahagia tetaplah bahagia..


Bahagia itu,

Adalah ketika badan ini sedang berlumur lumpur endapan dan sedimentasi di bak pembersihan –ah ya, perlu kujelaskan bahwa sistem pipa air di rumahku agak unik. Untuk mengatasi sedimentasi residu pupuk kimia dan endapan kotor dari air sumur kami yang memang bekas areal persawahan, rumah kami memiliki dua buah pompa air, dan dua tower. Tower pertama adalah untuk pembersihan –ada lapisan kerikil, sabut dan pasir di sana. Sementara tower kedua adalah tower untuk menampung air yang sudah bersih.
Dan membersihkan keduanya adalah kerja keras.

Oh, sepertinya penjelasanku terlalu panjang ya. Hehe. Baiklah kuulangi,


Bahagia itu,

Adalah ketika badan ini sedang berlumur lumpur endapan dan sedimentasi di bak pembersihan, tiga orang sepupu kecilku, Aisyah, Abidah dan Na-chan, bernyanyi ‘selamat ulang tahun’ di dekatku. Abi dan ummi tertawa, sementara bulik senyum-senyum.

Meski tidak bisa memeluk mereka, karena mereka pasti kabur melihatku belepotan kotoran, bahagia tetaplah bahagia.


Bahagia itu,

Adalah ketika membuka account facebook, dan mendapati banyak do’a dan ucapan selamat dari sahabat-sahabat, baik Jogja maupun luar jogja. Membalas do’a mereka satu persatu, sungguh membuatku bahagia. Meski ada seseorang yang kuharap mengucapkannya ternyata tidak mengucapkannya hari itu, bahagia tetaplah bahagia .


Bahagia itu,

Adalah ketika menerima SMS dengan alfabet cyrlic, yang kutahu pasti dari adikku Ghozy di St. Petersburg. Meski aku tidak tahu apa yang diucapkannya, aku tahu itu pasti do’a terbaik untukku. Maka, bahagia tetaplah bahagia.


Bahagia itu,

Adalah ketika hendak berangkat ke waduk Sermo untuk menemani anak-anak Rohis SMA Sanden untuk baksos dan rihlah, malu-malu ‘Aisyah dan Abidah masuk  ke ruanganku dan memberiku Chunky Bar Silverqueen yang dibungkus kertas koran. Kupeluk hangat keduanya, lalu kupanggil yang lain dan kita makan cokelat itu bersama-sama.

Meski akhirnya aku hanya kebagian 3 potong –padahal aku yang ulang tahun, bahagia tetaplah bahagia.


Bahagia itu,

Adalah ketika tidak diapa-apain sama kawan-kawan CDS, dan melewati hari di Sermo dengan tenang dan nyaman. Ah, I love you guys, para pendobrak dan pembaharu... Meski ada beberapa yang minta traktiran, bahagia tetaplah bahagia.

Bahagia itu,

Adalah ketika pulang, kedua adikku, Shabrina dan Himmah menyambutku dengan riang gembira, dan memberikanku hadiah yang mereka beli diam-diam setelah aku berangkat paginya dengan uang mereka sendiri. Hanya pelukan terbaik dan do’a agar mereka tambah pintar dan shalihah yang bisa kuberikan pada mereka.

Meski ternyata setelah kubuka, isinya ‘hanya’ sebungkus wafer tango, permen yuppi pizza, sepotong stiker kecil dan gantungan kunci, bahagia tetaplah bahagia.


Bahagia itu,

Adalah ketika shalat maghrib, Abi yang biasanya selalu jadi trolldad buatku, mengusap kepalaku ketika aku mencium tangannya lama. Mendo’akan barakah atas setiap aktivitasku. Kuliah, ILUSI, dakwah sekolah, semuanya. Rezeki yang berlimpah dan barakah. Jodoh yang tepat dan shalihah.

Meski paginya Abi mengerjaiku dengan guyonan yang membuatku tertawa tapi juga senyum kecut, bahagia tetaplah bahagia.

Ah ya, nggak usah diceritakan ya guyonannya kayak apa. Itu konsumsi orang dalem. Hehehe :P


Bahagia itu,

Adalah ketika Abi mengajak keluarga untuk makan di luar. Bebek bakar yang biasanya di rumah dibagi bertiga, ini satu porsi benar-benar untukku. Tempatnya pun di luar rencana kita. Karena ternyata rumah makan tempat Abi biasa mampir, tutup hari itu.

Meski tidak makan di tempat favorit, bahagia tetaplah bahagia.


Subhanallah, walhamdulillah... betapa banyak kebahagiaan yang Allah berikan padaku hari itu. Hari dimana seharusnya aku menyendiri dan bermuhasabah atas apa yang telah kulakukan setahun silam. Berapa catatan dosa dan pahala yang telah tertulis. Berapa impian-impian yang berhasil kutapaki dan kuraih.
Merayakan ulang tahun, memang tidak pernah ada dalam shirah. Dan memang seperti itu. Karena aku hanya menganggapnya sebagai sebuah momentum. Ya, hanya itu. Momentum yang tepat untuk me-review diriku kembali, memperbaiki visi dan misi kehidupan.  Sebagaimana Shalahuddin Al-Ayyubi menjadikan momentum kelahiran Rasulullah sebagai pemompa semangat juang kaum muslimin di kala itu.

Kalaupun ada kebahagiaan yang terbagi, itu adalah rasa syukur atas helaan nafas yang masih diberi oleh Allah kepadaku. Sekadarnya, tanpa berlebihan, apalagi membuang uang dan mendzalimi kewajiban.
Selebihnya, itu adalah waktu untuk termenung, karena genap setahun jatah usia kita berkurang. Dan kita tidak pernah tahu, kapan habisnya jatah itu.


Kemudian juga tentang do’a...

Beberapa do’a tentang panjangnya umur dan kebahagiaan,
Sebagian mendo’akan barakah atas karya dan apa yang dilakukan.
Sementara sebagian lain menantikan kapan aku menggenapkan din-ku. Sumpah, yang ini ribut banget. Memangnya 22 tahun itu sudah harus menikah ya?

Yah, soal itu sudah termaktub di lauhul mahfudz, sekaligus sama nama pasangannya. Aku pun sudah berikhtiar menuliskannya dalam peta hidupku, sekalian sama namanya. Tapi, tetap rahasia ya :)

Well, sehebat apapun aku sebagai perencana, tetap saja harus nurut kehendak Yang Maha Kuasa. Tahun ini, kulantunkan do’a indah yang dinukil dari Al-Qur’an :

“Dan berdoalah, ‘Ya Tuhan-ku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi tempat.’” –QS. Al-Mu’minun : 29

Semoga Allah meridhai setiap usaha dan impianku, menjadikanku sebagaimana nasehat seorang sahabatku, “Always be the true light. Sesuai dengan namamu. Dhiyaa’ (Zia-Cahaya) Al-Haq (Kebenaran)”

Terima kasih ya Allah, atas usia yang engkau berikan ini.

Izinkan aku mampu memakainya untuk tetap menegakkan din-mu di muka bumi ini..


Bantul 2 September 2012




Ini salah satu kartu ucapan yang saya terima. dari Mas Ahmad Andika dan Mba Isna, Ihsan Creative Studio. Terima kasih ya, mas, mba :)

Minggu, 26 Agustus 2012

Doodle : Mudik

Doodle (coret coret) lagi!

Ceritanya lagi mudik kemaren. Sebagai pemudik yang abnormal (mudiknya malah ke Jakarta), mestinya perjalanan kami lancar-lancar saja, mengingat jalur yang rame adalah jalur keluar ibukota. Berangkat dini hari tanggal 17 Agustus, perjalanan santai.

Tapi ternyata yang terjadi agak di luar dugaan. Dini hari berikutnya, mobil kami tertahan di Ciasem, sekitar 20 kilometer dari gerbang tol Cikampek. seharian penuh kami disana, macet tak tertahankan. Masih mending kalo padat merayap, lha ini bener-bener mandeg -___-

Breaking the boredom, Saya minta tolong adek buat ngambil ransel di belakang, trus ngambil sketchbook plus tempat pensil yang isinya alat ATK (Yeah, ATK. gunting, cutter, kuas bahkan lem dan staples pun ada. Sampe dibilang kantong doraemon saya temen-temen :P ) Coret-coret sekitar setengah jam, inking, dan Voila :D


Oke. fine. ini berantakan. mohon maklum ya, nggambarnya di mobil dengan posisi ruang sempit :D

Formasi dari depan, kiri ke kanan :
Depan : Abi & Ummi
Tengah : Shabrina, adek nomer 6 (Gak tahan AC, jadi agak mabok), trus Syahid, adek nomer 4.. Paling kanan Saya sendiri, lagi nggambar :P
Belakang : Naily, adek nomer 2, Tampak galau. trus Himmah (bontot, adek nomer 7), makan potato chips. Gak kuat, jadi buka. Paling kanan, Putri (adek nomer 5) Tidur dengan bantal kesayangan.

Missing font people : Ghozy (Adek nomer 1) lebarannya di KBRI St. Petersburg, sama Asad (Adek nomer 3) Udah di Jakarta duluan, soalnya dia di IPB Bogor..

Well, hope ya like it :)