Selasa, 30 November 2010

Berladang Di Tanah Gersang




Di ladang dakwah, adalah hal yang biasa ketika kita menemukan kerikil pengganggu di tanah yang sedang disemai. Adalah biasa pula, ketika ada bibit yang mati, ataupun gulma yang merajalela.


Namun, pernahkah kau mencoba menyemai bibit di ladang yang gersang? dengan beribu kerikil tajam, siap menorehkan luka bagi kaki-kaki yang mencoba menggarapnya…

ISI, begitu orang biasa menyebutnya. Dan saat ini, saya tercatat sebagai salah satu mahasiswa disana. Jurusan DKV, atau Diskom. Fakultas Seni Rupa. Yang katanya, orang-orangnya urakan dan suka mabuk-mabukan. Yang katanya juga, lingkungannya keras dan berbahaya bagi mental dan jiwa kita. Dan masih banyak katanya-katanya yang lain.

Ah, entahlah. Pada kenyataannya, katanya-katanya itulah yang membuat saya berada disana. Bukan terdampar, bukan pula dijebak atau kesasar. Ini adalah pilihan yang saya ambil dengan kepala dingin dan pertimbangan matang. Yah, mungkin tidak begitu matang sih. Tapi setidaknya, disana saya bisa menemui orang-orang yang memiliki kemampuan dan kesukaan sama seperti saya.

Masih membekas dalam benak saya, betapa ‘pesta penyambutan anak-anak baru’ oleh para senior adalah benar seperti katanya orang-orang. Bukti pertama saya dapatkan disini. Dalam dinginnya Kaliurang jam delapan malam waktu itu, kami dipaksa bertelanjang dada, ditutup mata, lalu diperlakukan tidak selayaknya seperti manusia. Tidak terhitung umpatan dan sumpah serapah serta cacian yang dilontarkan kepada kami. Dan semua itu kami lakukan di tengah guyuran hujan.

Dan andai saya menceritakannya disini semuanya, secara detail… Ah. Betapa tidak sanggup dan tidak teganya diri ini. Walaupun saya akui ‘pesta penyambutan’ ini jauh lebih ringan daripada tahun-tahun sebelumnya. Yang sempat saya dengar dari kabar burung, ada yang sampai kehilangan akalnya karena gojlogan yang sangat keterlaluan. Saya bergidik, membayangkan dimana mereka, sang korban dan pelakunya saat ini.

Saya tahu, ini tradisi. Tapi apakah tradisi seperti ini layak diteruskan? Tradisi yang hanya mewariskan dendam dari generasi ke generasi. Jujur, saya amat kalut waktu itu. Bahkan waktu shalat pun sempat tidak diberi. Meski kemudian ketika saya protes, ketua panitia dengan ksatria meminta maaf kepada teman-teman muslim dan suasana happy ending begitu terasa keesokan paginya, saya tetap merasa bahwa ini bukan tradisi yang layak untuk dilanjutkan. Kalaupun dianjutkan, saya berharap dan berdo’a, semoga di episode berikutnya para junior kami dapat merasakan euforia eratnya brotherhood anak-anak ISI, tanpa harus merasakan sakit dan susahnya diospek.

Tanpa dendam, tanpa kata-kata dan tindakan yang kasar. Hanya kehangatan.

Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa saya begitu ‘ekstrim’ dalam mengubah jalan hidup. Saya maklum, karena sebagian besar orang-orang di sekitar saya memandang bahwa saya adalah orang yang lumayan relijius. Dengan segala kelebihan dan kekurangan tentunya ^_^. Saya bisa dikatakan dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan yang cukup agamis. ‘Dipaksa’ bangun untuk shalat subuh dan belajar bahasa Arab saat kecil, muraja’ah surah Ar-Rahmaan dan menderas Yaa Siin setiap hari sampai akhirnya saya hafal, menjadi rutinitas harian dan pekanan.

Tentunya kadang saya sebel dan marah, karena di waktu yang sama, teman-teman sebaya saya begitu asyik dengan bermain sepak bola di lapangan atau balapan Crash Team Racing-nya Playstation 1 yang sedang populer dikala itu. Kenapa saya harus terpenjara di rumah dengan semua kegiatan berbau agama ini? Ujung-ujungnya, saya suka kabur dari rumah untuk main Playstation, atau baca komik di rumah teman. Dimarahin? Jelas, Hehe.

Akan tetapi, masa kecil yang saya anggap ‘kurang bahagia’ itu ternyata membawa pengaruh besar dalam diri saya. Beberapa waktu yang lalu, seorang teman wanita yang sempat duduk sebangku dengan saya di SD bertandang ke kotak message saya di sebuah jejaring sosial yang saya ikuti. Setelah bertegur sapa beberapa saat, dia sempat menulis, “Zia masih inget nggak, dulu kamu itu seriing banget nyeramahin aku soal agama. Sampe aku sebel dengernya! Hahaha.”

Ceramah? Apa iya saya seperti itu pas SD? Memori masa kecil saya saat SD cukup banyak, tapi sepertinya yang itu tidak tersimpan. Saya sempat membayangkan diri saya saat itu bak seorang mubaligh ternama memberikan fatwa-fatwa kepada teman sebangku saya yang mendengarkan dengan raut muka bete. Aneeh!

Tapi memang begitulah adanya. Pada babak SMP dan SMA pun, saya dianggap sebagai orang yang alim. Sekali lagi, hanya anggapan. Padahal masih banyak lumpur dosa dan maksiat yang menempel dalam diri saya. Ampuni hamba-Mu yang dha’if ini ya Allah… T_T.

Ditambah lagi dengan mandat dari Abi dan Ummi untuk mengambil kuliah di Al-Azhar University di Cairo, Mesir selepas SMA, semakin meneguhkan paradigma orang tentang diri saya, bahwa saya adalah seorang calon intelektual muslim, atau mubaligh besar. (Amin, Allahumma amin..)

Akan tetapi, selepas SMA, Allah memiliki rencana lain untuk saya. Dan kesempatan kuliah di Al-Azhar ternyata bukanlah milik saya, terlepas waktu itu saya sudah lulus tes seleksi. Allahu a’lam. Di kesempatan berikutnya, Abi dan Ummi mendesak saya untuk apply ke Madinah Islamic University. Dan sebuah e-mail tanda bahwa saya lolos pun mampir ke inbox saya. YA~HA! Allahu Akbar!

Namun setelah urus sana dan urus sini, lagi-lagi saya mendapatkan kenyataan bahwa Allah masih belum membukakan jalan-Nya untuk saya kesana. Bukan tidak, hanya masih belum.

Saya pun sempat merenung, apakah saya kurang bersemangat karena ini bukan pilihan saya, melainkan pilihan Abi dan Ummi? Ah, tidak sepenuhnya benar. Birrul walidain menjadi motivasi yang menggerakkan diri saya, setelah impian berkelana ke luar negeri dan menuntut ilmu disana. Apakah karena ilmu saya yang kurang? Mungkin iya. karena harus saya akui, lolosnya saya dari kedua tes itu sebagian besar karena faktor luck semata. Pemahaman nahwu, shorof, fiqh, Qur’an, hadist dan Al-‘Ulum Ad-din saya masih jauh di bawah standar. Nah lho, kok saya bisa lulus? Sekali lagi, Allahu a’lam. Allah lebih tahu.

Akhirnya, saya pun membulatkan tekad untuk berkata pada kedua orangtua. “Abi, Ummi,” ucap saya pada suatu kesempatan, “Beberapa ikhtiar yang diminta oleh Abi dan Ummi saat ini belum membuahkan hasil. Zia akui, sejak awal Zia pasrah, sendiko dhawuh pada Abi dan Ummi, inginnya Zia jadi apa. Mubaligh, da’i atau apapun, Zia nurut. Tapi untuk kali ini saja, Zia ingin memutuskan dengan apa yang Zia inginkan sebagai jalan hidup…”
Dan, saya utarakan keinginan untuk kuliah di ISI.

Reaksinya bisa ditebak. Tidak setuju! Kenapa? Yaa… karena katanya-katanya yang saya ceritakan di atas tadi. Ummi malah menambahkan fakta dan data. Beliau bercerita soal binaannya yang non-aktif alias lepas dari dunia dakwah ketika masuk di ISI. “Bagaimanapun lingkungan itu membawa pengaruh yang sangat besar, Zia. Kamu pengen dirimu besok futur di tengah jalan?”

“Ummi,” saya mencoba menjawab. “Ummi sangat tahu, dengan tangan Ummi sendiri, Ummi mendidik dan mentarbiyyah Zia dan semua adik-adik Zia sampai Zia jadi seperti sekarang ini. Nah, sekarang masa’ Ummi nggak percaya dengan hasil didikan dan tarbiyyah Ummi untuk dihadapkan cuma di lingkungan seperti itu?”. Dan adu argumen antara saya dengan Ummi dan Abi pun berlanjut.

Sebetulnya, bukan hanya Abi dan Ummi yang keberatan. Sebagian guru di sekolah saya pun kebingungan dengan pilihan saya kuliah. “Kok di ISI to Zi? Jauh banget dari dirimu…”. Saya melongo heran. Belakangan saya baru ingat, kalau beliau petugas administrasi sekolah. Beliau tidak pernah masuk kelas. Semua guru di sekolah saya dulu, hafal betul dengan kebiasaan saya di kelas. Kalo nggak menggambar, ya tidur.

However, Alhamdulillah Abi dan Ummi mengabulkan permintaan saya, meski agak berat. Namun dengan satu kondisi : uang kuliah ditanggung sendiri. Untuk uang pangkal boleh meminjam, sisanya silakan cari uang sendiri. Saya setuju. Dan memang ternyata ridha Allah bersama mereka berdua. Saya dengan mulus diterima dalam tes masuk gelombang pertama.

Bismillah, ketika awal-awal kuliah, saya sudah mempersiapkan kemungkinan diri ini untuk mengalami shock culture. Namun agaknya kenyataan lapangan yang saya hadapi, benar-benar di luar ekspektasi. Karena saya benar-benar masuk ke dalam lingkungan yang 180 derajat berbeda dengan lingkungan di sekitar saya selama ini. Jadi, semua perkiraan saya boleh dibilang meleset.

Saya harus banyak membiasakan diri melihat dan mendengar berbagai hal, seperti botol minuman berikut peminumnya, atau cuma salah satunya, dalam berbagai acara. Saya memang benar-benar belum terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Juga dengan kata-kata kasar dan saru serta banyak hal lain yang membuat saya sedih dan, maaf, jijik. Karena yang melakukan semua itu di depan mata kepala saya adalah teman-teman saya sendiri. Sempat juga terpikir oleh saya, kayaknya bagaimanapun cara berdakwahnya, nggak bakal mempan sama orang-orang seperti ini.

Dan akhirnya, saya memilih untuk menjauh. Saya tidak ingin ruhiyah saya terkontaminasi mereka lebih dari ini. Dan tembok pemisah pun saya bangun. Dengan harapan iman saya dapat terlindungi dari pengaruh buruk yang saya terima.

Setiap hari, saya terus membangunnya begitu tinggi, dan semakin tinggi, sampai suatu kejadian yang meluluh-lantakkan tembok itu.
Hari itu, hampir lewat tengah malam, saya beranjak ke tempat teman-teman biasa ngumpul dan kongkow. Ketua angkatan memanggil saya. Ada hal penting apa malam-malam begini? Setibanya saya disana, perasaan saya langsung tidak enak. Dan benarlah, saya langsung dihakimi oleh teman-teman satu angkatan. Kata-kata mereka tidak kasar, namun benar-benar menusuk jati diri saya sebagai seorang muslim.

“Kamu itu maunya apa, Zi?”

“Emangnya kami ini orang-orang yang segitu berdosanya, sampai kamu jijik berteman dengan kami?”

“Iya, kami tau kalo kamu ini sholeh, tapi nggak begini caranya!”

Dan seorang teman yang mengaku atheis berkata, “Apa seperti ini, tingkah orang yang bikin nama Taling tarung?”. Bagi saya, pertanyaan ini seperti bermakna ‘ooh… jadi gini toh yang namanya Islam itu?’.

Menohok, sangat menohok.

Ya, Taling tarung adalah nama angkatan kami, yang saya dan beberapa orang kawan mencoba mengonsepnya. Namun kebetulan sayalah yang maju untuk presentasi kepada semua orang. Jadi secara 'tidak resmi', saya dianggap sebagai pembuatnya.

Taling tarung adalah sebuah sandhangan dalam aksara jawa, yang berfungsi mengubah bunyi menjadi ‘o’. O, atau lingkaran, secara filosofis dimaknai kelengkapan dan kesempurnaan. Tanpa tarung, taling tidak mampu membunyikan ‘o’. ia justru membunyikan ‘e’. Dan tanpa taling, tarung hanya memanjangkan bunyi itu. Mereka ibarat pasangan yang tak terpisahkan. Saling membutuhkan satu sama lain. Secara tidak langsung, spirit ukhuwah Islamiyyah saya coba tanamkan disana.

Tapi apa yang saya lakukan? Saya malah membelakangi filosofi itu, dengan membangun tembok dalam diri saya. Yang pada awalnya saya anggap tembok itu sebagai tembok penyelamat iman. Kini saya sadar itu adalah tembok keangkuhan, kesombongan, yang seolah berkata kepada teman-teman saya, “Saya ini orang shalih! Bukan seperti kalian, orang-orang bergelimang dosa! Kalian nggak pantas bergaul dengan saya! Bergaullah dengan orang-orang yang sejenis dengan kalian!”

Duh Rabbi, Saya mencoba meminta maaf sebisa mungkin kepada mereka, mencoba mengklarifikasi bahwa ini bukanlah sikap seorang muslim, dan saya salah. Dan justru orang-orang yang saya anggap sebagai ‘para pendosa’-lah yang membuka mata saya. Andaikata Rasulullah melakukan seperti yang saya lakukan tatkala memulai dakwah di Makkah, bisa jadi sekarang takkan ada Islam di dunia.

Saya teringat, beberapa pekan sebelumnya, saya mendapatkan sebuah hadiah berupa buku yang telah saya idamkan sejak lama. Buku tulisan Mas Salim, Dalam Dekapan Ukhuwah. Saat membacanya, saya semakin merenungi, betapa tulisan mas Salim membuat saya banyak berkaca dengan kehidupan di ISI.

Dalam dekapan ukhuwah, saya belajar untuk berucap, serupa dengan kisah masa kecil Al-Manshur Saifuddin Qalawun dan ayahnya, yang senantiasa mengucapkan kalimat indah, “Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.” Setiap kejadian apapun yang menimpa mereka. Baik atau buruk.

Karena memang saya benar-benar tidak tahu, apakah ketika Allah tidak meridhai saya ‘berkumpul dengan orang-orang shalih’ di Al-Munawwarah sana, dan justru malah ‘menempatkan saya bersama orang-orang yang tidak baik secara agama’ di sini, merupakan rahmat atau musibah.

Saya hanya bisa berprasangka baik, bahwa bisa jadi Allah meletakkan saya di ISI, karena ingin saya membuat perubahan disana. Meski kecil, meski hanya setitik. Bisa jadi Allah menginginkan saya menjadi bukti bahwa dimanapun berada, Islam tetap mampu berdiri tegap. Walaupun yang ditantangnya adalah gelombang raksasa berupa kejahiliyahan.

Dalam dekapan ukhuwah, ada banyak kisah yang mengharukan untuk berkaca.

Saya terharu, ketika suatu waktu setelah jam kuliah, seorang kawan menghampiri saya sembari berujar pelan, agak malu-malu. “Zia, mau nggak kamu ngajarin aku ngaji?”.

Saya terharu di lain waktu, saat seorang kawan yang lain yang kebetulan duduk di sebelah saya bergumam, “Zi, kiro-kiro nek aku tobat, isih ditompo ora yo?”. Setengah bercanda, dia berkata ingin bertaubat, setelah bercerita tentang laku maksiat yang lama dijalaninya.

Dan saat itu saya hanya bisa menjawab, pintu taubat selalu terbuka untukmu, kawan. Selama ajal belum menjemputmu…

Seperti kata mas Salim, mereka mungkin terlihat begitu gersang. Dan kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana. Kita belajar untuk menjadi embun di pagi harinya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan yang menghias malamnya.

Begitupun dengan saya. Tidak peduli apakah mereka berbenah diri karena memang hidayah Allah telah sampai ke dalam hati mereka, atau karena mereka hanya ingin bersikap olok-olok, saya tetap akan belajar untuk menjadi embun, awan dan rembulan bagi hari-hari mereka. Meski kadang jua, justru sayalah yang lebih gersang dari mereka.

Dalam dekapan ukhuwah, saya banyak belajar bahwa orang-orang di sekitar saya, adalah mad’u dengan potensi yang spesial untuk dakwah Islam. Meski mereka berada di ladang kerikil yang tajam. Dengan kemungkinan bagi sang bibit untuk mati sangat tinggi, walaupun terus disiram. Dan bukan tidak mungkin pula kaki sang penyiram akan terluka karena tertusuk kerikil tajam yang diinjaknya.

Namun, di sinilah bagian saya. Di ladang kerikil tajam nan berdebu itu. Betapapun luka dan darah yang menetes, betapapun sakit dan lelahnya menyiram juga menyemai, saya tidak akan menyerah. Karena saya percaya, setiap orang memiliki bagiannya masing-masing.

Dan jika ada yang bertanya, kamu sudah berkoar-koar tentang dakwahmu. Sekarang, mana hasil dakwahmu disana?
Belum, kawan. Belum.

Ini hanyalah ikhtiar dan khusnudzon saya kepada mereka, bahwa kelak kita akan berjalan bergandengan tangan bersama, menyongsong cahaya surga.

Biarlah Allah, Rasul dan orang-orang berimanlah yang menilai apa yang telah dan akan saya lakukan…



Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html
Enhanced by Zemanta

Reaksi:

15 komentar:

  1. T____T

    Subhanallah bang, air mataku pun berkata tulisanmu menggugah !!
    hikk hikkk... hikkk

    BalasHapus
  2. Subhanallah, alhamdulillah.

    saya bingung mau komen apa....

    jazakillah ya sa ^_^

    BalasHapus
  3. subhanallah,,, so sweet Zia, ayooo buktikan bahwa kita bisa. indahnya Islam, toh kamu g sendirian kan? ada teman2 lain yang siap membantu, maksimal dengan doa. ^^

    chayooo2

    BalasHapus
  4. SubhanAllah.
    medan dakwahnya agak mirip dengan yang di sini,,
    tapi tentu punya senpai lebih berat..hehe,,kisah yang inspiratif dan memotivasi,,arigato ne, senpai atas sharingnya kemarin2..^^
    keep spirit, senpai!
    ganbarimashou!

    BalasHapus
  5. ini kakaknya mbak Naily kan??? Subhanallah, inspiring banget!!!

    BalasHapus
  6. @ulfa
    hehehe... minimal kali fa. bukan maksimal... :)

    iya. saya nggak sendirian kok. di ISI pun ada banyak sekutu ^_^

    @afie
    belum tentu juga lho.... :D bisa jadi medan dakwah disanal malah lebih berat... amin. saling menyemangati dan mendoakan! :)

    @halida
    iya. saya kakaknya naily. terima kasih, jazakillah :)

    BalasHapus
  7. keren..keren..keren...
    Oh, betapa kejamnya dunia di luar sana..
    Baru taw saya...
    Terimakasih udah menyadarkan tentang banyak hal lewat posting ini..

    Full of beans yah kak!!

    BalasHapus
  8. Karya yang luar biasa Menginsfirasi. Selamat Yaaaa :D

    BalasHapus
  9. wua...keren.
    perjuangan memang tak kenal henti.
    tetep semangat&congratulations kak!

    BalasHapus
  10. @ mba piet
    terimakasih, jazakillahu biahsanil jaza' :)

    @izza
    Terima kasih, yang namanya berjuang itu nggak ada kata berhenti. kalo keren, hmm... kayaknya nggak juga :P :P

    semangat juga buat kamu!! :D

    @arwana
    Alhamdulillah :)

    BalasHapus
  11. kok mirip pengalamanku ya..
    *tulisanmu seperti beresonansi pada diriku, membuatku tersenyum2 bagai menemukan teman yang mengatakan "kamu tidak sendirian..", air mataku hampir menetes, Subhanallah.. bolehku aku memanggilmu "akhi"? :')

    BalasHapus
  12. Assalamu'alaikum,,, maaf mas, mo nanya... 554 generation itu apa ya?

    BalasHapus
  13. saya salut ama mas zia , ni hampir mirip dengan kisah diriku waktu menjalani kuliah di upn veteran dan akhirnya harus hijrah dan keluar dari lingkungan karena tak kuat imanq disana, mencoba meninggalkan kejelkan dan berdakwah lagi lewat dunia kreatif dikampus umy hehehehe, eh iya sepertinya saya dulu pernah ada salah juga sama antum maafkan ya , thanks inspirasinya Rendra Visual (www.flippermagz.com)

    BalasHapus
  14. subhanallah Mas, menginspirasi. Padahal biasanya, saya adalah orang yang pesimistis terhadap orang-orang yang setipe dengan Mas. Karena apa? Banyak orang-orang religius malah mengekslusifkan diri mereka. Sekadar cerita, barangkali medan yang saya hadapi sama dan bahkan lebih sulit dari Mas; di mana jumlah teman lawan jenis yang banyak kadang bisa menggoyahkan dan 'merayu' iman perlahan. Saya memang masih kotor dan jauh sekali dari "ngerti agama", tapi saya sedang belajar untuk mencapai tahap seperti yang Mas paparkan: idealis dan terbuka. Selamat berjuang Mas, kita saling menguatkan! :)

    BalasHapus

Komentarmu adalah denyut nadi blog ini. Maka, tulislah komentar, meski barang satu kalimat.

Jazakumullah ^_^